Aku….
Menelisik ke dalam lembah kehidupan yang sesungguhnya. Dan inilah aku, dengan segala kekurangan dan kelebihan, meraup untung dan rugi, menelaah hitam dan putih, mencari arti kehidupan dan kematian sesungguhnya. Aku dengan 3 suku kata nama RDS. Tak perlu bagaimana kalian repot memanggilku, cukup dengan sebutan “beckha” atau “beck”. Aku hanya bagian dari penggalan hidup mengiringi bumi ini. Tapi lebih dari itu, sebenarnya singgasana di ujung gerbang pun bisa aku singgahi sejenak, duduk, lalu meninggalkannya, sekejap saja, lantas pergi melayang ke langit. Dan terjungkal ke jurang bisa mengingatkan aku akan arti sebuah kehidupan, arti sebuah proses.
Kau….
Harusnya ada kau disini, menyaksikan betapa indahnya aku di titik ini. Menerawang jauh, menikmati permainan, dan merasakan gelora perjalanan ini. Luar biasa, sobat. Dan kau tahu bagaimana caranya mengenalku? Cukup pendarkan rasamu, hilangkan nelangsamu, dan nyatakan eratnya interaksi ini. Aku muak dengan kesemuan, tertawa mengiringi umpatan, berbelas menutupi akal licik, merendah menyambut kesombongan, serta apapun yang kau sebut dengan basa-basi. Aku lebih suka kau mengumpat dengan kesenangan tanpa dendam, meluapkan sedikit akal licikmu dengan terang tanpa belas kasihan, lalu ungkapkan saja semua yang kau rasakan, dengan naluri kesederhanaan dan apa adanya. Sekali tangan ini menyentuh dan hati mengerucut, sekali itu juga aku pastikan aku adalah penyayang kedua untukmu. Memang bukan dengan setia seputih salju, tapi selalu dengan apa adanya. Aku sedang belajar. Hingga gelombang itu sering menghadang kau dan aku. Aku harap kau bersabar. Aku juga tak ingin selalu di tahap yang sama dalam proses belajar ini. Aku berusaha dan tahukah kau itu? Aku memang berharap, lantas salahkah?
Dia…
Kini, aku dengan pikiran bercabang. Menoleh ke sana sini, kiri dan kanan. Sampai kapan? Aku belum menemukan dia. Dia selalu hilang saat aku membutuhkannya di tengah jalan. Aku memang sering meninggalkannya begitu saja. Aku membiarkan dia mencari-cari aku. Dan kubiarkan diriku mengelabuinya. Ironis!! Aku hanya ingin di satu titik, tapi pertanyaan itu menghantuiku. Aku harus menemukan dia, hingga nanti kami bersama. Mencari arti sebuah kesatuan.
Orang Itu….
Relai saja aku dan orang itu. Pernahkah orang itu sadar sakit ini masih berbekas. Goresannya tak panjang memang. Hanya 5 cm, tapi memar. Bekas luka ini tak akan pernah hilang. Seenaknya saja orang itu datang dan pergi. Atau aku juga melakukan hal yang sama? Aku sebut orang itu tak pernah mengilhami apa artinya sebuah harapan. Menjauhlah, hingga orang itu takkan pernah bisa menemukanku lagi.
Mereka….
Aku mencintai mereka. Dengan tulus seputih salju. Takkan ada yang menggantikan mereka. Sedekat dan sejauh apapun, aku hanya ingin berdoa untuk mereka. Memastikan mereka baik-baik saja. Aku tak ingin kehilangan sehelai rambut saja dari mereka. Dan aku mau jadi bantal buat mereka, yang mungkin bisa mengumpulkan satu per satu rambut mereka yang berguguran. Menyimpannya dalam genggaman tanganku. Selalu untuk selamanya, aku akan tetap mencintai mereka dengan tulus.

hi becks, mantap juga blogmu,
ekekekeke
go go go…
have a nnice day
memory Art by Watchson
salam kenal
@ afdon : wah, ini asli template org, dan ga ada mantap2nya don..hahhaaa..thx ya don. sering2 mampir ya…
@ watchson : tengkyu pak dek…lanjutkan pergerakanmu pak..hehhehe…mksi ya…ditunggu mampir2nya lg… ^_^
@ pakdejack : aloww…salam kenal jg….mampir2 yaaa… thx b4…