
Aku memandang kehidupan ini seperti butiran air yang sedang mengambang di antara pusaran. Aku menyebutnya “Air 3 S”
Sekali
Hanya sekali!! Aku lahir entah dalam siang atau gelap, begitu pula aku akan mati baik siang ataupun gelap. Tak seorang pun tahu. Berapa banyak waktu yang kupunya untuk menghela nafas dan menginjak bumi ini. Tak seorang pun tahu. Yang kutahu, hidupku hanya sekali. Maaf, aku tak percaya reinkarnasi. Hidupku dirancang sekali dan hanya sekali. Satu perjalanan, entah dimana titik akhirnya. Namun, aku sudah memulai, sedang berjalan, pasti menuju titik kehabisan nafas ini.
Sementara
Hingga aku tak pernah tahu kapan hidup ini akan berakhir. Yang kutahu, kehidupan takkan kekal di bumi ini. Semuanya akan berakhir, ya, tepat di titik akhir tadi. Kesementaraannya menaklukkan logikaku untuk terus bersanding dengan egoku. Aku hanya sementara hingga dijadikan kekal. Aku hanya akan menjalani satu garis panjang tertentu. Tak ada yang abadi dalam bumi dan kehidupan ini. Semua orang akan kembali ke tanah. Kesementaraannya benar-benar lenyap dan tanah menjadi saksi bisunya.
Sesuatu
Hidup ini hanya sekali dan sementara. Aku tidak tahu bagaimana aku akan menjadikan diriku sesuatu. Sesuatu yang berguna untuk orang lain dan membuatku bahagia. Sesuatu yang berharga. Karena aku tahu ketika aku dirancang aku sangat berharga. Dan hingga mati pun aku ingin tetap menjadi sesuatu seperti awal mula telah diberikan, bahkan mungkin lebih. Kehidupanku akan lenyap, namun sesuatu yang menyertai keberadaanku, akan menjadikan sekali dan sementara hidupku hanya untuk sesuatu yang berharga.

0 Responses to “Point of view”