Archive for the 'Memoar BC' Category

02
Mar
11

Akulah kumpulan dosa itu

Mata ini terbuka. Mencari – cari setitik cahaya yang bisa menerangi tempatku berada. Dan akhirnya, di ujung sana aku menemukannya juga. Dari sini, aku yakin pasti ada surga cahaya di sana. Sett..aku diam. Kakiku terhenti. Mataku menyipit beberapa saat. Perlahan aku mundur. Lambat sekali sampai rasa takut mengalir deras di pembuluh darahku. Aku terus dan terus mundur. Hingga aku tak sadar sudah ada jurang menanti di ujung belakangku. Hanya tinggal 10 meter lagi. Aku menoleh ke belakang dan terkesiap. Kalau aku terus menatap ke depan, bisa saja aku jatuh dan terkapar di jurang terdalam itu. Hufff,,,,aku bernafas lega.

Sekarang aku benar – benar berhenti. Kakiku diam tapi masih terasa gemetar. Peluhku merayap di seluruh tubuhku. Aku berusaha mengatur nafasku. Turun naiknya terasa jelas bergema. Pinggangku perlahan meliuk, kakiku terlipat, dan kini aku sudah duduk. Aku lelah, pikirku. Dan akhir – akhir ini aku sering kelelahan.

Masih teringat jelas di kepalaku bagaimana tanganku mengacung sempurna, mulutku berdesis tajam, mataku menyorot aneh, dan hatiku berontak panjang. Mereka kumpulan dosa itu. Aku bersih, kawan. Tanpa cela dan tanpa darah kotor. Maka, jelas sekali aku berhak menudingmu. Wajar sekali aku heran dengan gaya hidupmu. Sampai aku pusing kenapa kau bisa bertahan dengan cara hidupmu. Maaf kawan. Disini ada pagar pembatas di antara kita. Kau hitam, aku putih.

Topengku berganti. Putaran masa lalu mengerjap – ngerjap. Potongannya seperti jelas di tiap waktu. Seolah – olah itu murni masa lalu. Tapi tidak. Aku sering mengulanginya, entah hanya dalam fantasi atau pelampiasan. Benar – benar menjijikkan. Ya, aku bisa bilang begitu. Karena sekarang kartuku putih. Aku telah dibebaskan.

Brukkk…Lamunanku tersadar. Ternyata mataku sedari tadi tertutup. Saat kubuka, tiba – tiba ada suara yang mengejutkanku. Suara yang berat namun penuh wibawa.

“Hanya karena kau sudah memohon ampun dan diampuni. Disucikan dan dibersihkan dari dosa, bukan berarti kau bebas mengacungkan tanganmu, tertawa dari mulutmu, berujar sadis, dan melupakan siapa masa lalumu. Karena dari semua acungan telunjukmu, kau sedang mengacung untuk dirimu sendiri”

Aku mengucek – ucek mataku. Dari mana suara itu. Saat aku sedang mencari – cari, suara itu bergaung lagi.

“Kau lihat cahaya di sana?? Kau takut bukan?? Kalau tidak, kenapa kau mundur?? Jangan terlalu banyak pembenaran. Aku mengenalmu jauh lebih baik dari siapa pun di rumahmu. Aku tahu ada perasaan kacau saat telunjukmu terangkat. Aku tahu semua itu. Juga tahu kenapa kau takut menuju cahaya itu. Karena itu berarti aibmu akan terbuka bukan?? Dosamu akan terkumpul jelas??”

“Siapakah kau??” Aku memberanikan diri bertanya, sambil terbata – bata.

“Kau tahu siapa aku. Dan aku hanya ingin kau mencari jalan yang seimbang antara masa depan dan masa lalumu. Menjadi bijak tanpa mencemooh orang yang tak bijak. Menjadi berkat dan memandang masa lalumu sebagai pelajaran yang harus kau usahakan agar orang lain terbebas dari itu.”

“Aku bingung…” Kata – kataku menggantung pasrah.

“Kau tak akan bingung lagi. Penggodamu di masa lalu sedang mencobai pikiranmu. Sekarang, bangkitlah. Berjalan lurus terus ke depan tanpa ragu. Hentakkan langkahmu dengan mantap. Hingga kau tiba di asal setitik cahaya itu.”

“Tapi aku gak bisa. Aku lelah dan gak sanggup.”

Aku terus meracau. Tapi suara berat itu tak bersuara lagi. Dia tidak menanggapi semua perkataanku lagi. Aku mendongakkan kepalaku ke setitik cahaya yang terasa lebih redup dengan yang tadi. Entah apa yang menggerakkanku. Tapi ada semangat yang mengganti rasa takut di pembuluh darahku. Semangat yang masih kecil tapi terasa terus membakar. Aku menarik tubuhku perlahan berdiri. Helaan nafasku terasa berat dan ringan secara bersamaan. Kekuatan yang aneh.

Aku melangkah terus. Hingga setitik cahaya itu semakin jelas, jelas dan jelas. Diameter yang memancar semakin besar dan lebar. Aku terhipnotis oleh keindahan cahaya yang tidak menyilaukan mataku. Dan akhirnya aku berhenti saat mataku mulai terganggu dengan kilauan cahayanya.

Aku termangu dan terdiam. Tak tahu sedang bicara apa, berpikir apa, merasa apa, dan berbuat apa. Tapi layakkah aku menikmati pemandangan seindah ini??? Di depanku terhampar keindahan surga cahaya. Mataku silau karena kilatan cahayanya semakin meninggi. Dan aku hanya perlu adaptasi.

Aku tersungkur. Segala memori masa laluku menguap.

Memoar BC

16
May
10

That’s Why I say BIG THANK YOU!!

Bukan seberapa banyak waktu yang telah dihabiskan
Bukan tentang ‘quality time’
Bukan bicara soal sejumlah cerita yang telah dibagi
Bukan pula uang, pulsa, buku, harta dan sebagainya….

Ini soal makna diri
Ini tentang perdebatan karakter
Ini penting untuk koreksi
Ini menguasai 3/4 waktu di hidup kita

Dan saat kepingan itu tak lagi bisa disambung-sambung…digabung-gabung…
Atau bahkan tak ada satu sisipun yang bisa dicocok-cocokkan??
Haruskah aku marah??
Tidak…tidak…pertanyaannya bukan ‘harus’..
Tapi Berhakkah aku marah??
Layakkah aku menganggap semua omong kosong??

Ya, aku sudah marah dan kecewa
Sejujurnya…
Lebih tepatnya…
Aku hanya mencari waktu…tempat…untuk marah..untuk kecewa…

Kutakutkan…
Benarkah rasa ini, yang kupikir cuma milikmu, juga sudah bergelayutan lama di kotak pandora itu??
Benarkah??
Dulu pipi ini akan basah, hingga kerongkongan turun naik, tak sanggup lagi bersuara…
Benarkah??
Kini, aku hanya selintas berpikir, memejamkan mata, dan herannya…aku hanya menerawang jauh…
sebentar…sebentar saja kawan…
Salahkah aku?? Atau itu salahmu?? Mungkin salah kita??

Tidak ada gunting disini, juga ditempatmu…
Inilah alasannya puzzle itu tak akan pernah memberi rupa lagi
Tak seindah dulu…

But you know what??
I would never suggest you to take a scissors to make it better..
Really…
Now, I just want to say BIG THANK YOU…
You know why??
Because, your scissors had been straightened my messy pieces of puzzle.

@Jakbar, 6:24 PM

15
May
10

Untouched

On progress to release :
“Akulah kumpulan dosa itu”
“Best Fit-Old Clothes”
“Undisclosed Minute of Meeting”

Be ready.. :)

07
Feb
09

menanti apa??

Tidak terlalu heran sebenarnya kalau aku kembali lagi ada disini. Merekah segenggam asa, berharap klaustrofobia mengerti akan arti dahsyatnya hubungan ini bagiku. Kita sering berhadap-hadapan, cukup dekat, hingga darah ini mengalir ingin menghapus semua kenangan buruk tentang kita. Namun, semakin sering bandul itu berpindah-pindah, ternyata aku semakin sadar kita hanya meregang tali urat nadi kita. Bergerak menunggu arti sebuah pengorbanan dan peleburan emosi berbalur prinsip. Muak aku!!!

Lembaran baru ingin selalu dibuka. Reka ulang adegan terus ingin tampil gagah di benakku. Harapan dan perubahan tak henti-hentinya terhasrat di hati. Hingga, akhirnya, aku sendiri bingung, karna sebenarnya aku menanti apa??

Memoar BC

01
Feb
09

benang-benang kegagalan (2)

Terulang lagi!! Mungkin itu dua kata paling tepat mewakili kejadian beberapa hari yang lalu. Entah kekuatan apa yang terus mendorongku untuk bisa melanjutkan hubungan aneh ini. Hubungan yang membuatku frustasi karena terlalu lelah dengan spekulasinya yang ganjil. Kini, di titik ini, aku menyesali kenapa hubungan kami harus sedekat ini. Atau, mungkin lebih tepatnya aku yang merasa dekat dengan dia. Itu pun kalau dia butuh koreksi dari pernyataanku di atas. Andai dulu kami tak pernah terlibat keseharian yang teruntai panjang.

Sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu jelas bagaimana awal terjadinya kemarin. Hanya saja, aku tersadar ketika sifatnya yang satu itu menggangguku. Aku merasa seperti kegagalan”ku” selama ini menjadikan semua kedekatan hanya sementara dan tak berarti banyak. Hingga dia terus – seolah – olah – punya hak untuk mengintimidasi aku dan tak peduli dengan perasaanku. Frustasiku meradang, luar biasa aku mengerang memohon agar ingatanku tentang hubungan ini dihapus saja. Anggap saja aku tak pernah menjadi kesehariannya dulu. Mungkin aku terlalu lelah untuk tetap hadir dalam dunia kecil ini bersamanya.

Sifat itu menggerogoti aku hingga terkikis ke lapisan kulitku terdalam. Sampai sekarang aku tak habis pikir mengapa tak pernah sedikit pun dia peduli apa yang sedang kurasakan, entah itu karena dia atau masalah lain. Yap, mungkin nampaknya sekarang aku malah seperti memohon kau mengingat kesetaraan pemikiranmu. Memakainya untuk kasus ini, walau bagian otakmu yang satu itu masih kukeluhkan hingga kini. Aku tak ingin menerawang lebih jauh, takut berharap lebih jauh, dan hanya bisa kadang – kadang mengingatkan seperti mukaku ini setebal tembok saja saat itu terjadi.

Tak bijak rasanya kalau aku membandingkanmu dengan potongan simetris sepertimu yang juga pernah dan masih (mungkin) kumiliki. Namun, kalau ada celah untuk itu. Aku merasa dulu terlalu egois dengannya. Dia sangat peduli untuk setiap perubahan apa pun yang terjadi dalam hidupku, mulai dari tatapan mataku, ucapan, dan tingkah lakuku. Bahkan, aku terkadang kelewat manja dan kekanak-kanakan membiarkannya terus “merawatku” dengan cara yang kusukai. Aku terbuai memang. Apa sekarang karma? Apa ini yang pernah dirasakannya saat dia harus terlalu lelah menghadapiku? Benarkah??? Terlintas juga begitu peduli dan sayangnya aku padanya, hingga kami nampak seimbang. Jelas sobat, itulah bedanya. Mungkin ini karmaku, tapi aku telah letih dan enggan berusaha. Letih dan enggan karena hubunganku dengannya juga terbias keluar mendekati api yang melesat-lesat di perut bumi.

Memoar BC

01
Feb
09

lanjutkan saja…

“Ya ampun,” teriakku. Mataku nanar memandang serpihan kaca yang berhamburan di sekitar tubuh seorang pria di kamarku. Aku memekik kaget dan dengan lemas aku membiarkan tas dan plastik belanjaanku terkulai dari tanganku. Aku terduduk otomatis sambil meraba wajah, tangan, dan perut pria itu bergantian dengan sangat cepat. Air mataku menetes hingga ke wajahnya.

“Rein, secepatkah ini semuanya berlalu? Seputus asa itukah dengan dia?” aku hanya mampu berkata dengan kelu dan suara rendah.

Tak sempat lama aku menikmati drama perpisahan ini, Alder tergesa-gesa mendekati Rein. Dia mengacuhkanku. Oh, ternyata ada 3 orang pria lain yang menyusul di belakangnya. Dua orang paling depan dengan sigap, seolah-olah itulah pekerjaan mereka, mengangkat tubuh Rein dengan gerak ala militer pekerja rumah sakit. Satu orang membereskan ceceran kaca dan darah di lantai kamarku. Dan Alder menatapku sejenak sebelum pergi meninggalkanku. Dia sangat cemas, resahku.

Aku limbung. Semua terjadi begitu cepat, dan bagai neraka untukku. Apa-apaan ini?, gumamku dalam hati. Apa yang terjadi dengan Rein hingga Alder sangat peduli padanya? Sejak kapan suhu panas antara mereka dikompres? Dan lebih anehnya lagi mengapa Alder meninggalkanku begitu saja tanpa bicara sepatah kata pun?

Aku menyeka air mataku yang tinggal menitis. Kuhela napas, berharap ada kekuatan baru mengangkatku berdiri. Satu orang teman Alder, atau entahlah dari mana Alder mengambilnya-aku tak pernah melihatnya sebelumnya, masih asyik membereskan bekas perbuatan Rein. Dia cukup sopan tampaknya untuk tidak mengganggu waktu – waktu pribadiku bergulat dengan diriku sendiri. Aku sempat memandangnya sekilas, dia tersenyum sambil menggangguk padaku. Namun, jelas sekali dia enggan bicara. Entah mengapa. Pikiranku terlalu kalut untuk menerka-nerkanya.

Aku mencoba bangkit berdiri, sambil terus mencari pegangan. Aku tertatih-tatih menuju kasurku. Aku hanya ingin berbaring, desahku lemah. Masih kuperhatikan teman Alder, lebih baik kusebut saja demikian, yang masih membereskannya, bolak-balik mengambil sapu, kain pel, dan pewangi tanpa sedikit pun bertanya dariku. Tak sulit mencarinya, karena semua ada di luar kamarku. Dia meletakkan tas dan plastik belanjaanku di atas meja, di samping laptopku. Sedikit pun dia tak memandangku saat dia menutup pintu kamarku dari luar. Ugh, aku tak sempat mengucapkan terima kasih. Aneh, kenapa dia sangat baik, seolah – olah kejadian tadi itu salahnya dan dia harus bertanggung jawab mengembalikannya ke semula. Aku terlalu lelah untuk menyusulnya bahkan memanggilnya. Lama-lama kamarku terasa gelap dan aku sudah menerawang. Sepertinya aku tertidur.

Memoar BC

12
Dec
08

Benang – benang Kegagalan (1)

Hari ini aku membuka mata dan mencoba melihat ke luar.

“Melelahkan”, dehemku.

Aku menggeliat badan malas di kasur dan kembali memejamkan mata. Sejenak aku melintasi imajinasi peristiwa kemarin. Entah mengapa emosi itu selalu menggiurkanku untuk melakukan hal-hal di luar kebiasaan dan hati nurani. “Ya, aku kecewa.” Kecewa karena semua yang terjadi seperti hanya permainanmu dan aku cuma perangkat bantuan. Tentu dengan gagah aku bisa bilang ini bukan soal keseimbangan cara hidupmu dan aku, kesetaraan pemikiranmu dan aku, atau pembalikan semua citra rasa yang dulu pernah ada hingga kini terbias kembali.

Aku hanya ingin meletakkan tangan ke bahumu dan berkata “semua ini bukan keinginanku, tapi tak pentinglah itu, aku hanya ingin kau mengerti bahwa aku menyayangimu dengan tulus”. Semua luka dan kegagalan ini hanya milikku seorang, hingga di suatu sudut aku menyadari tiada kehampaan tanpa kehilangan rasa. Kau kehilangan rasa, rasa yang dulu begitu sempurna kukagumi dan kusyukuri di depan kaki-Nya. Kau merasa hampa hingga semua yang terucap dan terurai dari aku nampak tak indah lagi, sia-sia, dan penuh kemunafikan.

“Naif, sobat”

Aku merasa menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab untuk kegagalan kita mengejawantahkan dunia kecil ini. Setiap luka akan meninggalkan lubang dan bekas. Itu yang selalu kuingat terjadi padamu, karena semua luka yang nampaknya semua olehku, tetap tinggal berbekas dan meluruh hingga waktu tak terbatas di hatimu. Dan aku dalam kebingungan mencari cara menegakkan benang-benang kegagalan itu. Setiap usahaku hanya mendapat senyuman sinis darimu. Saat itu, seringkali, saat senyuman sinismu menyambar, aku merasa ditelanjangi dan menguap seolah mempertegas bahwa semua terasa sia-sia dan menjemukan buatmu.

Aku lelah menerawang ujung di sepanjang lorong gelap ini. Aku ingin segera berakhir dan menemukan pelangi di akhirnya.

Sayup kudengar suara seorang wanita dan choir mendendangkan “Hark The Herald Angels” hanya kira-kira 1 meter dariku. Aku terkesiap. Pelan tapi shaydu lagu ini memberi sedikit ketenangan di hatiku. Hari ini sudah bulan Desember, dan beberapa saat lagi salju menjadi sangat indah membayangi di luar sana. Aku membuka mataku, menatap ke langit – langit kamarku.

Hari ini aku berharap aku masih punya kekuatan untuk menegakkan benang – benang itu.

Memoar BC





quote for today

Kegagalan itu hanya "pitstop" untuk menyusun strategi menuju kesuksesan...SEMANGAT!!!

YM! : beckha_sq

Have Been Visited

  • 3,896 HITS

!!TWITTER!! follow me @rebeccadeswita

 

June 2012
M T W T F S S
« Oct    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.