Mata ini terbuka. Mencari – cari setitik cahaya yang bisa menerangi tempatku berada. Dan akhirnya, di ujung sana aku menemukannya juga. Dari sini, aku yakin pasti ada surga cahaya di sana. Sett..aku diam. Kakiku terhenti. Mataku menyipit beberapa saat. Perlahan aku mundur. Lambat sekali sampai rasa takut mengalir deras di pembuluh darahku. Aku terus dan terus mundur. Hingga aku tak sadar sudah ada jurang menanti di ujung belakangku. Hanya tinggal 10 meter lagi. Aku menoleh ke belakang dan terkesiap. Kalau aku terus menatap ke depan, bisa saja aku jatuh dan terkapar di jurang terdalam itu. Hufff,,,,aku bernafas lega.
Sekarang aku benar – benar berhenti. Kakiku diam tapi masih terasa gemetar. Peluhku merayap di seluruh tubuhku. Aku berusaha mengatur nafasku. Turun naiknya terasa jelas bergema. Pinggangku perlahan meliuk, kakiku terlipat, dan kini aku sudah duduk. Aku lelah, pikirku. Dan akhir – akhir ini aku sering kelelahan.
Masih teringat jelas di kepalaku bagaimana tanganku mengacung sempurna, mulutku berdesis tajam, mataku menyorot aneh, dan hatiku berontak panjang. Mereka kumpulan dosa itu. Aku bersih, kawan. Tanpa cela dan tanpa darah kotor. Maka, jelas sekali aku berhak menudingmu. Wajar sekali aku heran dengan gaya hidupmu. Sampai aku pusing kenapa kau bisa bertahan dengan cara hidupmu. Maaf kawan. Disini ada pagar pembatas di antara kita. Kau hitam, aku putih.
Topengku berganti. Putaran masa lalu mengerjap – ngerjap. Potongannya seperti jelas di tiap waktu. Seolah – olah itu murni masa lalu. Tapi tidak. Aku sering mengulanginya, entah hanya dalam fantasi atau pelampiasan. Benar – benar menjijikkan. Ya, aku bisa bilang begitu. Karena sekarang kartuku putih. Aku telah dibebaskan.
Brukkk…Lamunanku tersadar. Ternyata mataku sedari tadi tertutup. Saat kubuka, tiba – tiba ada suara yang mengejutkanku. Suara yang berat namun penuh wibawa.
“Hanya karena kau sudah memohon ampun dan diampuni. Disucikan dan dibersihkan dari dosa, bukan berarti kau bebas mengacungkan tanganmu, tertawa dari mulutmu, berujar sadis, dan melupakan siapa masa lalumu. Karena dari semua acungan telunjukmu, kau sedang mengacung untuk dirimu sendiri”
Aku mengucek – ucek mataku. Dari mana suara itu. Saat aku sedang mencari – cari, suara itu bergaung lagi.
“Kau lihat cahaya di sana?? Kau takut bukan?? Kalau tidak, kenapa kau mundur?? Jangan terlalu banyak pembenaran. Aku mengenalmu jauh lebih baik dari siapa pun di rumahmu. Aku tahu ada perasaan kacau saat telunjukmu terangkat. Aku tahu semua itu. Juga tahu kenapa kau takut menuju cahaya itu. Karena itu berarti aibmu akan terbuka bukan?? Dosamu akan terkumpul jelas??”
“Siapakah kau??” Aku memberanikan diri bertanya, sambil terbata – bata.
“Kau tahu siapa aku. Dan aku hanya ingin kau mencari jalan yang seimbang antara masa depan dan masa lalumu. Menjadi bijak tanpa mencemooh orang yang tak bijak. Menjadi berkat dan memandang masa lalumu sebagai pelajaran yang harus kau usahakan agar orang lain terbebas dari itu.”
“Aku bingung…” Kata – kataku menggantung pasrah.
“Kau tak akan bingung lagi. Penggodamu di masa lalu sedang mencobai pikiranmu. Sekarang, bangkitlah. Berjalan lurus terus ke depan tanpa ragu. Hentakkan langkahmu dengan mantap. Hingga kau tiba di asal setitik cahaya itu.”
“Tapi aku gak bisa. Aku lelah dan gak sanggup.”
Aku terus meracau. Tapi suara berat itu tak bersuara lagi. Dia tidak menanggapi semua perkataanku lagi. Aku mendongakkan kepalaku ke setitik cahaya yang terasa lebih redup dengan yang tadi. Entah apa yang menggerakkanku. Tapi ada semangat yang mengganti rasa takut di pembuluh darahku. Semangat yang masih kecil tapi terasa terus membakar. Aku menarik tubuhku perlahan berdiri. Helaan nafasku terasa berat dan ringan secara bersamaan. Kekuatan yang aneh.
Aku melangkah terus. Hingga setitik cahaya itu semakin jelas, jelas dan jelas. Diameter yang memancar semakin besar dan lebar. Aku terhipnotis oleh keindahan cahaya yang tidak menyilaukan mataku. Dan akhirnya aku berhenti saat mataku mulai terganggu dengan kilauan cahayanya.
Aku termangu dan terdiam. Tak tahu sedang bicara apa, berpikir apa, merasa apa, dan berbuat apa. Tapi layakkah aku menikmati pemandangan seindah ini??? Di depanku terhampar keindahan surga cahaya. Mataku silau karena kilatan cahayanya semakin meninggi. Dan aku hanya perlu adaptasi.
Aku tersungkur. Segala memori masa laluku menguap.
Memoar BC

Recent Comments