Archive for November, 2010

13
Nov
10

Sudut Pandang

Seringkali kita berbeda sudut pandang saat membicarakan berbagai hal dengan orang lain. Bahkan, kita juga sadar bahwa tiap hal, sekecil apapun, pasti memiliki pro dan kontra. Tak asing juga terdengar di telinga kita bagaimana sebaiknya kita harus mengolah pro dan kontra itu menjadi sesuatu yang membangun, bukan malah merusak. Memberi ruang pada perbedaan sehingga tiap orang dipuaskan.

Masih ingat teori relativitas milik Einstein? Yap, dunia itu begitu relatif termasuk tentang bagaimana kita memandang, menilai, dan membicarakan sesuatu. Saya pernah harus berdebat panjang dengan teman kuliah tentang arti ‘janji kampanye’. Mungkin kalau saya tidak menjadi bagian dari penentu keputusan untuk menepati atau mengingkari janji kampanye tersebut, saya tidak akan sekeras itu berdebat. Sesuatu yang mungkin tidak diambil pusing oleh yang lain, bahkan orang yang dijanjikan itu sendiri. Tapi, saya sebut itu tanggung jawab moral. Dan semua orang yang menentang saya saat itu menyinggung tentang “fleksibelitas”.

Apa perbedaan antara relatif dan fleksibel ?

Supaya jelas, saya akan coba buka Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online. Disana, relatif diartikan  tidak mutlak; nisbi. Sedangkan fleksibel berarti lentur; mudah dibengkokkan; 2 luwes; mudah dan cepat menyesuaikan diri. Apakah yang menjadi arsiran antara definisi 2 kata tersebut? Menurut saya, 2 kata itu bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tidak baku, kaku, dan ada ruang untuk perbedaan. Jadi ingat 1 kata lagi untuk dibahas, yakni “kompromi”.

Intinya dalam hidup ini kita harus mengedepankan relatif, fleksibel, atau kompromi itu. Agar apa? Agar semua orang bisa menerima kita sebagai orang yang bijak? Agar kita bisa diterima semua orang? Agar kita dianggap sebagai penengah? Agar kita bisa membuat orang senang dengan pendapat kita? Agar tidak ada perdebatan panjang yang membuat kita akhirnya akan mengeluarkan pernyataan “Semua ada baik buruknya, ada pro dan kontra, tidak ada yang salah dan benar, tergantung sudut pandang kita masing – masing.”

Lahhh..apa pula “sudut pandang” itu?

Apapun makna sudut pandang, tapi itu membuat kita sadar ada banyak hal di dunia ini (bahkan semua hal, mungkin??) yang bisa diperdebatkan, bisa dinilai dalam berbagai parameter, bisa salah dan benar, bisa menang atau kalah, atau mungkin bisa jadi terlalu naif atau sangat jahat. Many things will be depends on uncertainty. Is that right?

Saya terlalu sering mengalami perdebatan yang panjang untuk menempuh kebenaran hanya akan diakhiri dengan relatif, fleksibel, dan sudut pandang. Lalu buat apa kita berdebat?? Selalu saja debat dihubung – hubungkan dengan menang – kalah, hebat - mati kutu, atau mempengaruhi – dipengaruhi.

Saya coba buka kamus lagi untuk kata baru yang mengusik. “Debat”. Berdasarkan KBBI versi online, debat berarti pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

Ada 2 kata yang saya garis bawahi.

Bukannya alasan bisa dikategorikan pendapat? Dan semua hal terkait pendapat masih relatif? Saya tambah lagi. Pernah dengar kalimat “belum teruji kebenarannya”. Apa alat ukurnya? Bukankah alat ukur itu juga masih bisa diperdebatkan, yang ujung – ujungnya bisa berakhir dengan relatif, fleksibel, dan sudut pandang?

Wah, kepala saya pusing memikirkannya. Mungkin kepala saudara tidak. Bisa jadi saudara bilang narasi ini terlalu dangkal, tidak penting, atau ‘apa sih?’. Tapi buat saya, semuanya menjadi tidak penting. Karena segala sesuatu bisa dipandang lebih dari 1 sisi bukan? Lantas, apalagi ya yang bisa membuat orang tetap membusungkan dada untuk menyombongkan diri di dunia ini?

Perlahan tapi pasti, segala bentuk relativitas, fleksibelitas, dan sudut pandang menjadi sangat terkenal. Terkenal dengan bentuk kontra tak berkesudahan. Walaupun ada yang pro tentunya. :)

Untuk mengantisipasi itu semua, mau tidak mau, bisa tidak bisa, diterima atau tidak, banyak pakar mengalihkan perdebatan dan kontra berkepanjangan itu menjadi sebuah “standar”. Yap, standar yang entah acuannya dari mana kemudian dibakukan dan disebarluaskan sebagai sesuatu yang asli, diakui, dan dijamin. Bahkan dianggaplah itu sebagai suatu ‘kebenaran’. Wow… Padahal siapa yang bisa menjamin kebenaran ‘acuan’ itu? Bukannya masih bisa diperdebatkan?

Ah, cukup sudah rasanya membahas itu semua. Pasti Anda punya pendapat yang berbeda. Tapi saya tidak akan memperdebatkannya, atau bahkan membuat suatu standar yang dianggap ‘kebenaran’. Yang saya lakukan hanyalah belajar menyadari bahwa tidak segala sesuatunya relatif. Bahkan untuk sesuatu yang selalu kita anggap ‘relatif’. Tidak semuanya bisa dilenturkan karena fleksibel. Termasuk soal sudut pandang, yang kadang hanya kita gunakan sebagai ruang pembebasan diri, pembenaran diri, dan entah apa lagi.

Belajarlah mendengar, sesuatu yang di luar kemampuan kita. Belajarlah melihat, apapun yang selama ini terlalu dibuat abu – abu. Dan pada akhirnya kita menyadari bahwa ada kebenaran yang tidak relatif, fleksibel, tergantung sudut pandang serta tidak bisa diperdebatkan. Kebenaran yang tak peduli kita akan puas atau tidak. Dan itu keluar untuk kita sendiri, tapi bukan dari dalam diri kita.




quote for today

Kegagalan itu hanya "pitstop" untuk menyusun strategi menuju kesuksesan...SEMANGAT!!!

YM! : beckha_sq

Have Been Visited

  • 3,896 HITS

!!TWITTER!! follow me @rebeccadeswita

 

November 2010
M T W T F S S
« Jun   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.