Jangankan menjadi pecinta kopi, minum seteguk saja rasanya enggan. Yap, saya memang tidak pernah menyukai minuman berwarna gelap itu. Kebiasaan menyediakan kopi hanya untuk tamu di rumah, menandakan tak satu pun anggota keluarga kami yang menyukai kopi. Sangat berbeda, jika dibandingkan dengan ada orang yang bisa minum kopi hampir tiap hari. Wow…
Tapi, seperti pepatah saya (hahaha…) “Walau engkau sangat gelap,pasti ada 1 titik terang”. And then, pepatah ini nampaknya berujar di hari pertama tahun 2010.
Seperti biasa, entah itu di Siantar, Medan, Jakarta, pertemuan keluarga kami di tanggal 1 Januari menjadi hal wajib. Pasti banyak keluarga juga mengikuti tradisi ini. Well, namanya juga pertemuan keluarga, pasti selalu ada indikasi tua-muda di dalamnya. Ada orangtua, anak-anaknya atau bahkan anaknya anak, dsb, dsb.
Kebersamaan seperti ini yang sebenarnya mengingatkan kita arti “keluarga”. Tapi jangan terlalu sering – sering ketemu juga, bisa bosan.
Baiklah, karena topik ini membahas kopi, urusan keluarga kita tinggalkan sejenak ya.
Tepat di malam harinya, indikator tua-muda mulai menunjukkan tombol on-off – nya. Kalau dari pagi sampai sore, tombol itu seakan – akan tidur karena begadang, yang ditandai cengkrama keluarga masih melebur. Namun gelapnya malam membunyikan alarmnya. Para kaum muda pun melakukan perjalanan ke Citos, dan tetua ke arah yang lain. Walau pada akhirnya akan berujung di Citos juga.
Kita pilih Citos, karena paling dekat dengan rumah kumpul. Setelah berunding dan cari sana sini, akhirnya kita pilih Excelso untuk nongkrong. Bukan karena tak ada tempat yang lebih asyik, tapi karena sepertinya ini tempat yang masih lenggang kursi – kursinya.
“I don’t like coffee.”
Itu juga jawaban saya saat ditanya saudara saya. Tapi ada beberapa alasan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk ingin menikmati kopi malam itu. Saudara saya menyebut menu recommended, yang sudah sempat dicatat oleh waitresnya. Agak lupa apa namanya. Namun, saya tiba-tiba teringat, waktu hendak masuk tadi saya melihat ada brand meja “Kopi Luwak” di meja depan. Dan dengan cepat pula, ingatan saya melesat pada salah seorang teman saya di Bali, yang mengatakan sampai terharu karena telah menemukan jenis kopi ini. Maka sontak pula, tidak ingin melewatkan kesempatan minum kopi ini dengan cita rasa yang sedap dan spesial, ditambah rasa penasaran, jadilah saya meralat pesanan saya menjadi Kopi Luwak.
Tak berapa lama pesanan itu pun datang, bukan dengan secangkir kopi langsung minum. Iya, itulah bayangan saya awalnya. Namun, apa yang datang? Barista membawa alat penyeduh bernama siphon alias vacuum brewer, sebungkus bubuk kopi luwak, cangkir, 2 sachet gula, potongan biskuit, sendok, dan korek api. Karena hampir di semua meja itu belum pernah menikmati kopi luwak, maka kedatangan barista membawa seperangkat alat itu cukup mengagetkan. Termasuk saya sebenarnya, saya pikir saya yang akan menyeduh kopi itu sendiri. Untungnya dengan sigap, barista menjawab kekuatiran saya. Barista-lah yang melakukan proses penyeduhan dari awal hingga dituangkan ke cangkir kita. Sayangnya, saya tak mengabadikan sedikit pun gambar proses maupun hasil akhirnya.
Penampakan kopi ini setelah dituang ke cangkir ya seperti layaknya kopi biasa (di mata bukan pecinta kopi seperti saya), hitam dan hitam. ![]()
Setelah saya tuang 2 sachet gula, diaduk – aduk dan menunggu sedikit berkurang panasnya, saya menikmati pelan – pelan. Dan hasilnya?? Taraaa….
Cukuplah saya menjawab dengan pepatah saya :
“Walau saya tak suka kopi, namun kopi ini cocok di lidah saya, si anti-kopi” ![]()
Rasanya cukup layak diapresiasi dengan sebutan ‘mantap’.
Kalau kita searching-searching di mbah google, mungkin kita akan tahu persis kenapa kopi ini sangat terkenal hingga ke seluruh dunia, bahkan dibahas di The Oprah Winfrey Show, menjadi kopi paling mahal dan dinanti – nanti oleh para pecinta kopi. Dan, yang paling membanggakan, karena asalnya dari Indonesia. Jadi kalau di luar negeri, kita harus mengeluarkan kocek hingga $40-50 untuk segelasnya, di Indonesia hanya berkisar di angka 100-150ribu. Tapi sejumlah artikel tak akan menjawab rasa penasaran kita, sebelum kita terjun langsung ke TKP. Selamat menikmati.
And, still…I don’t like coffee yet…

saya menjual kopi luwak asli (Robusta dan Arabica) dijamin asli. Kunjungi http://www.civeto.com