Ancaman people power kian memanas. Sejumlah tokoh nasional, aktivis LSM, mahasiswa, dan kalangan masyarakat secara umum mulai menyerukan persoalan bangsa yang lebih besar lagi dari sekadar kasus Bibit – Chandra. Setelah Bibit – Chandra dibebaskan pada tanggal 3 November 2009 lalu, suara – suara pengusutan Bank Century kembali terdengar.
Masih jelas di ingatan kita bagaimana nasabah Bank Century berteriak lantang hingga beraksi ekstrim untuk menarik perhatian masyarakat dan khususnya Pemerintah. Mereka merasa dirugikan besar – besaran dan ingin agar mendapat bagian yang proporsional untuk penyelesaian kasus mandeknya Bank Century tersebut. Yap, mereka hanya mau uang mereka kembali utuh di tangan mereka.
Dan pada akhirnya, Senayan bersuara. Setelah kasus Bibit – Chandra sepi tanggapan dari parlemen, eksekutif, dan bahkan partai politik, Jumat kemarin (13/11) DPR mengunakan hak mereka. Melalui Maruarar Sirait dan Gayus Lumbuun, Fraksi PDI P menginisiasi langkah untuk mengajukan hak angket terkait kasus Bank Century. Mereka telah mengumpulkan lebih dari 135 tanda tangan anggota DPR dari 8 fraksi, kecuali Partai Demokrat, untuk mengusut ada apa di balik penggelontoran dana talangan (bailout) 6,7 T ke Bank Century.
Tentu saja, tindakan DPR ini direspon positif oleh masyarakat. Walau masih ada suara – suara miring yang menganggap tindakan anggota dewan ini terlalu lambat dan memanfaatkan momentum. Memang, nada kecewa terlontar pada anggota Senayan ini, terutama setelah menyaksikan secara langsung rapat kerja Komisi III dengan pihak Polri dan Kejaksaan Agung. Mereka dianggap berseberangan dengan kehendak rakyat, menistai amanah rakyat, dan mengoyak rasa keadilan rakyat. Ditambah mereka tak bersuara apapun lewat jalur partai politik tentang isu kriminalisasi KPK yang berdengung panjang, entah di jalanan atau dunia maya. Dengan ini, wajar saja rakyat masih menyimpan opini negatif untuk ‘wakil-wakilnya’ itu. Sehingga hak angket DPR ini juga tidak ditelan lumat – lumat sebagai bentuk pembelaan terhadap kepentingan rakyat banyak.
Namun, langkah yang diambil DPR, khususnya fraksi PDI P sebagai inisiator cukup melegakan. Di saat aksi jalanan telah menjelma menjadi oposisi jalanan, parlemen jalanan, bahkan pengadilan jalanan; para wakil rakyat itu memang harus bergegas membenahi diri dan mengambil peranan. Sebab jika tidak, gelombang people power akan mulai terbangun sistematis dan bergerak melampaui kekuasaan apapun di negeri ini. Tsunami ketidakpercayaan masyarakat telah menjalar ke hampir semua perangkat negara, mulai dari Kepolisian, Kejaksaan, DPR, bahkan pemerintahan SBY. Inilah yang harus disikapi dengan bijak, benar, dan strategis demi keadilan masyarakat.
Yang menarik, hingga kini, SBY belum juga bersuara lagi. Alih – alih untuk menenangkan masyarakat, SBY menggunakan Tim 8 untuk ‘ngaso’ sejenak. Daripada diusik terus menerus untuk mengambil sikap, RI 1 yang dicatut namanya dalam rekaman Anggodo itu, memilih mengamati dari kejauhan sambil mendengar bisikan – bisikan di kanan kirinya. Mungkin SBY sedang meratapi langkah – langkah awalnya di Jilid II ini. Dia sudah mengerahkan sejumlah agenda untuk menarik publik. Mulai dari National Summit, program 100 hari, 1 tahun, hingga 5 tahun ke depan juga sudah dipersiapkan. Namun, publik tak terlalu menggubrisnya. Mereka lebih tertarik dengan suguhan pers-tainment yang makin lama makin eksis dengan genjotan narasi beritanya.
Isu kampanye dan Pilpres yang amburadul, pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang kontroversial, kebijakan dan sikap Presiden yang terkesan lambat, disusul dengan kasus Antasari, Bibit – Chandra, hingga pemadaman listrik di sejumlah wilayah Indonesia. Semuanya menyeret opini publik yang mengerucut ke arah kebobrokan pemerintahan SBY. Dan mungkin di kursi singgasana pun, orang nomor 1 di Indonesia itu sedang duduk terkulai lesu dan ngambek karena segala rencana politiknya tak sesuai dengan harapannya. Rakyat tak lagi silau dan terkesima dengan kharisma atau citranya, yang entah baik atau buruk, tapi buat saya tak menarik sama sekali.

mantab…
Semoga hal ini tidak menjadi deal2 an politik antara PDIP dengan pemerintah. Kita harus mengerti dengan rumor bahwa kader PDIP banyak yang terlibat kasus Miranda Gultom saat akan dicalonkan menjadi Gubernur BI. Semoga bukan hal ini yang membuat fraksi PDIP menjadi “semangat” untuk berada di depan. Namun, bila hal ini terjadi, maka ini seperti barter antara ayam dengan sapi. Tentu tidak sebanding, kasus seharga ratusan milyar dengan kasus dengan harga triliunan.
Kalau mau permainannya lebih seru, 7 partai lain bisa mengambil peran lebih sehingga mereka menjadap simpatik dr masyarakat. Namun yang paling potensial menjadi “anak mudanya” adalah partai pimpinan Ical.
Halo bang dezmon,
Sebenarnya ga terlalu ngerti bg,tp aq coba menanggapi ya bg.
#deal2an politik : mudah2an ya bg.walo kemungkinannya sngt kecil,tp tak ada salahnya berprasangka positif.
#rumor keterlibatan kader PDIP : mgkn akan ada konflik kepentingan,tp kecenderungan rakyat sekarang lbh kuat menguak misteri2 itu, ya ga bg?? hehhehe….
#anak mudanya di GO***R : wah,imho ni ya bg,si partai ini ga akan jadi anak muda layaknya bintang. tp mgkn bs jadi anak muda untuk memperebutkan barteran itu.
Dgn senang hati berdiskusi bg,jd mohon masukan kalo ada yg kurang ya bg. Makasi tanggapannya bg.